Home » » Juventus CAP SEORANG JUARA

Juventus CAP SEORANG JUARA

Ada banyak anomali di dalam sepakbola, dan "main jelek, tapi ujung-ujungnya menang juga" adalah salah satunya. Dalam bahasa yang bisa dibilang lebih keren istilahnya adalah 'Mark of The Champion' atau cap tanda juara.

Fernando Torres bisa jadi juga masuk ke dalam anomali itu. Seorang penyerang kelas wahid, begitu brilian ketika berbaju Liverpool, tapi tidak pernah kembali ke asalnya ketika berbaju Chelsea. Jika ada seseorang yang membuat buku "Sepakbola dan Hal-hal yang Tidak Bisa Dijelaskan", mungkin Torres bisa masuk ke dalam satu bab pembahasan tersendiri.

Tapi kita tidak akan membahas Torres. Ada anomali lebih umum lagi, dan itu seperti yang tertera di atas; bagaimana sebuah tim bisa lolos dari 90 menit yang menjemukan dan berakhir menjadi pemenang. Dalam sebuah musim kompetisi yang panjang, kemenangan seperti itu seperti sebuah kebajikan kecil yang akan menolong si pelaku di akhir hayat.

Ketika masih menangani Chelsea, Jose Mourinho pernah berucap bahwa memenangi kompetisi domestik lebih menyenangkan ketimbang memenangi turnamen semacam Liga Champions. Alasannya sederhana, memenangi kompetisi adalah buah konsistensi tim sepanjang musim. Sementara, memenangi Liga Champions kadang-kadang ditentukan oleh form di satu laga, di mana ada beberapa faktor juga ikut bermain, seperti gol tandang dan sebagainya. Habis di satu laga, maka tamatlah sudah. Tim Anda tidak akan melaju ke babak berikutnya.

Kompetisi, di sisi lain, adalah hal yang berbeda. Satu kekalahan belum tentu akan membuat musim sebuah tim habis atau selesai. Justru kekalahan seringkali jadi pelecut untuk melihat bagaimana sebuah tim bereaksi setelah kekalahan itu. Kadang, main standar atau cuma menang 1-0 juga tidak masalah selama kemenangan yang dikumpulkan sebuah tim membuat tim itu bisa melangkahi tim-tim lainnya di papan klasemen. Ini adalah logika sederhana.

Maka, jangan heran ketika Mourinho yang pragmatis itu tidak pernah keberatan dengan label "Boring Boring Chelsea". Toh, faktanya pada akhir musim The Blues bisa dibawanya menjadi juara. Tidak hanya satu kali, tapi dua kali.

Tentu ada banyak faktor yang memengaruhi konsistensi itu. Anda tidak bisa melepaskan teknis bagaimana sebuah tim bermain dari faktor tersebut. Tapi, kadangkala ada masa di mana teknis tidak bisa menjelaskan bagaimana sebuah tim yang di atas kertas lebih superior terbentur tembok tebal. Di sinilah 'Mark of The Champion' itu diuji kelayakannya.

Juventus adalah contoh itu. Datang memasuki musim sebagai salah satu calon juara, mereka berhasil membuktikannya, setidaknya sampai sejauh ini -- sampai pertandingan tadi malam. Permainan Juve tidaklah istimewa pada laga tersebut. Kalaupun ada yang layak dibilang luar biasa pada pertandingan itu, maka itu adalah Paul Pogba. 

Salah satu highlight dari gelandang Prancis itu adalah bagaimana dia mengirim umpan panjang dari belakang kepada Emanuele Giaccherini, yang berada di sisi kiri jauh. Giaccherini kemudian menerima umpan itu dan menusuk masuk masuk ke kotak penalti. Sayang, aksi ini tidak berakhir indah. Giaccherini kemudian didakwa melakukan diving dan diganjar kartu kuning.

Tapi, bak menebus aksi yang tidak indah itu, Giaccherini justru tampil sebagai pahlawan lewat gol tunggalnya di injury time. Pogba juga jadi pahlawan berkat assist yang diberikannya. Catania tidak jadi mencuri satu poin, dan sebaliknya tiga poin berkat kemenangan tipis tersebut terbukti krusial. Pasalnya, pada saat bersamaan Napoli justru takluk di tangan Chievo. Jarak di antara kedua tim di klasemen pun melebar.

Anda tidak bisa meremehkan kemenangan-kemenangan tipis ketika musim tinggal menyisakan 10 atau 11 pertandingan lagi. Silakan bermain indah selama 90 menit, tapi jika akhirnya gagal mendapatkan kemenangan maka jangan salahkan tim lain jika tujuan mendapatkan trofi gagal di akhir musim. Bermain indah hanyalah salah satu cara untuk mendapatkan kemenangan, sementara kemenangan adalah tujuan akhir yang justru jadi esensi. Oleh karena itu, jangan ketika memasuki periode-periode musim seperti ini Anda menemukan banyak manajer komentar "Yang penting tim saya menang", terlepas dari bagaimana timnya bermain.

Ada beberapa tim yang bisa menjadi contoh lainnya, dan mungkin itu bisa menjelaskan bagaimana mereka bisa memimpin di klasemen dengan keunggulan jauh -- atau sangat jauh. Bayern Munich memperlihatkan bagaimana kemauan untuk menang itu bisa membawa mereka jauh. Die Roten yang sudah unggul 17 poin dari Borussia Dortmund itu sempat tertinggal 1-2 dari Fortuna Dusseldorf.

Dilihat dari sisi pandang sederhana, kekalahan tidak akan melukai Bayern. Biarlah kalah, toh jarak dengan Dortmund masih jauh. Tapi, Bayern berhasil melangkahi maut dan membalikkan keadaan. Tim asal Bavaria itu menang 3-2. Di pertandingan lain, Dortmund malah kalah dari Schalke. Ganjaran akibat kemauan untuk menang itu pun didapat: keunggulan 20 poin di klasemen. Gila.

Hal-hal seperti "yang penting menang" itu sesungguhnya bukanlah hal yang remeh. Tapi, justru sebaliknya. Hal tersebut menunjukkan bagaimana kegigihan (atau kemauan) sebuah tim untuk menang, bagaimana sebuah tim berjuan membobol tembok tebal demi trofi di ujung jalan. Jika sukses melewatinya, maka sah sudah cap tanda juara atau 'Mark of The Champion' itu disematkan.

Kadang, semuanya sederhana saja. Pertanyaan mengapa sebuah tim bisa menjadi juara, jawabannya bisa jadi karena mereka menunjukkan hasil yang lebih konsisten ketimbang tim-tim lainnya. Sebagai penutup, mungkin bisa disimak kata-kata Franz Beckenbauer berikut ini: "Bukan yang kuat yang menang, tapi yang menanglah yang kuat."

souce: detik
Share this article :

Post a Comment